Kampus, kost, perpustakaan, kampus, kost, perpustakaan, perpustakaan dan perpustakaan, seolah bosan melihat wajah ku yang selalu kebingungan. Ya Tuhan… perjuangan itu… terlewati sudah… Astungkara…
4, 5 tahun, yang sebenarnya bukan hanya memberikan aku sekedar tambahan huruf berupa titel, namun lebih dari itu, perjuangan itu telah mengantarkan aku hingga bisa seperti sekarang ini. Bukan cuma titel atau lembaran nilai-nilai, namun juga teman-teman yang hebat, yang telah mengajarkan aku makna sesungguhnya dari ‘maju terus pantang mundur’, mereka semua yang ada di kampus. Mulai dari dosen, teman sekelompok, anak-anak penjual koran, pak satpam yang baik, bahkan sampai teman-teman di kantor, yang selalu menularkan semangat, yang menyadarkan aku bahwa ilmu itu bukan hanya ada di dalam kelas, namun dimanapun kita berada disitulah ilmu itu, hingga akhirnya aku memilih untuk banyak mengikuti kegiatan agar semakin bertambah juga ilmu itu, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku ini. Namun aku mendefinisikan wisuda itu, bahwa setiap akhir adalah awal permulaan yang baru. Maka itulah hakikat wisuda yang sebenarnya. Di balik wajah kebahagiaan ku memakai toga, aku menyadari aku masih memiliki tugas yang lebih besar dari pada sekedar tugas yang ada dikampus. Yaitu bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat dengan bekal ilmu yang telah kita isi selama bertahun-tahun di kelas.
Fiufh.. jika membayangkan, tentu itu sungguh berat sekali. Terlebih melihat wajah para orang tua, yang penuh harapan terhadap aku yang telah menjadi sarjana, yang tak pernah letih melantunkan doa-doa untuk aku selama di Djogja.
Ketika sudah mencapai puncak, capailah puncak yang lain. begitu kiranya nasihat orang bijak yang pas untukku saat ini. Meski wisuda itu adalah puncak dari perjuangan kita selama di kampus, namun ia bukanlah akhir. Lihatlah jauh kedepan, masih banyak puncak yang harus kita daki lagi. Janganlah takut untuk memulai dari Nol, melangkah dari awal untuk mendaki puncak yang lebih tinggi lagi.
Karena wisuda sesungguhnya bukan disini. Karena wisuda sesungguhnya bukan ketika kita mengenakan toga kemudian bersalaman dengan pak rektor menerima ijazah. Wisuda sesungguhnya itu adalah nanti, di masyarakat sana. Teladan ilmu pengetahuan yang harus ku terapkan untuk bermasyarakat, nusa dan bangsa. Itulah wisuda yang sesungguhnya. Puncak dari semua puncak. *Selamat kepada teman-teman fakultas FMIPA UGM, terutama teman-teman MMI Kelas A angkatan 2009. Yang belum wisuda, ayo..segera menyusul.
Foto Narsis ku...


















